Turnamen British Open belum mampu menjadi ajang kebangkitan bagi Jon Rahm. Meskipun mengawali turnamen dengan meyakinkan, penampilan sang pegolf Spanyol merosot tajam pada putaran terakhir dengan catatan +4. Hasil buruk ini semakin memuluskan jalan bagi Ryan Fox untuk mengamankan gelar "major" pertama dalam kariernya.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Berdasarkan laporan pertandingan di Royal Birkdale, Fox yang kini berusia 39 tahun dan berada di peringkat 56 dunia harus berjuang hingga hole terakhir untuk mengungguli pegolf Amerika Serikat, Cameron Young. Young sempat memimpin klasemen sementara usai tampil gemilang pada putaran penutup. Sementara itu, Jon Rahm dan Josele Ballester harus puas mengakhiri turnamen dengan torehan par, terpaut jauh dari Fox yang memimpin dengan catatan -10.
Setelah menyamai rekor putaran terendah dalam turnamen major pada hari Sabtu dengan 62 pukulan, pegolf asal Auckland tersebut memulai hari terakhir dengan tertinggal dua pukulan dari puncak klasemen. Lewat penampilan yang penuh dinamika, Fox memastikan kemenangan berkat raihan "birdie" pada hole ke-18 untuk mengunci skor akhir -10, unggul satu pukulan dari Young.
Fox, yang kini meneruskan jejak Scottie Scheffler sebagai pemegang Claret Jug, meraih trofi paling bergengsi dalam karier profesionalnya. Menurut catatan sejarah, ia menjadi pegolf ketiga asal Selandia Baru yang berhasil memenangi gelar major, mengikuti jejak Bob Charles pada British Open 1963 dan Michael Campbell pada US Open 2005. Isak tangis haru tak terbendung saat ia memasukkan "putt" sejauh dua meter di hole terakhir.
Di sisi lain, Jon Rahm melanjutkan tren negatif sejak bergabung dengan LIV Golf. Ini menjadi tahun ketiga berturut-turut bagi mantan pegolf nomor satu dunia tersebut mengakhiri empat turnamen major tanpa meraih satu pun gelar juara. Rahm harus puas terlempar ke posisi 46 pada akhir gelaran British Open tahun ini.
"Ini tiga tahun berturut-turut saya memasuki hari Minggu tanpa peluang apa pun. Ini bukan tujuan saya berlatih. Setiap pemain tentu ingin memiliki kesempatan untuk menang, tetapi harus menyelesaikan permainan jauh sebelum para pemimpin klasemen memulai putaran sangatlah menyakitkan. Saya ingin lebih sering berada dalam persaingan," ujar raut kekecewaan Rahm usai menutup putaran terakhirnya dengan catatan buruk.
Hasil mengecewakan di Royal Birkdale menguatkan sinyal penurunan performa Rahm di ajang grand slam. Sebulan sebelumnya pada ajang US Open, ia bahkan gagal meloloskan diri dari "cut off" setelah mencatatkan ronde buruk +8, sebuah catatan kelam yang jarang menimpa kariernya sejak tahun 2019.